KAMPUS NUGRAHA

Just another WordPress.com weblog

APLIKASI DEVELOPMENTALLY APPROPRIATE PRACTICE January 28, 2009

Oleh Ali Nugraha

Master Trainer Bidang Pendidikan Anak Usia Dini

Dari Joyful Learning Services Indonesia

————————————————————————————————————————————–

Anak adalah anugrah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita. Untuk itu perlu disyukuri dengan bermakna. Salah satu perwujudan rasa syukur yang utama adalah dengan menerima keutuhannya dan bersedia mengembangkan segenap potensinya dengan sebaik-baiknya.

Potensi anak dari manapun dia berasal (termasuk anak-anak Indonesia) berdasarkan riset terkini diyakini sangat luar biasa dan menakjubkan (sarwa potensi), sehingga cukup tepat disebut golden ages priority. Gambaran tentang potensi anak yang diyakini terpercaya, secara sederhana saat ini salah satunya  ditunjukkan dengan teori  multiple intelligences (kecerdasan jamak) yang diajukan dan dipopulerkan oleh Howard Gardner. Untuk sementara, hingga saat ini telah terindentifikasi beberapa ragam kecerdasan anak, yaitu: kecerdasan linguistik (cerdas kosakata), kecerdasan logika dan matematika (cerdas angka dan rasional), kecerdasan spasial (cerdas ruang/tempat/gambar), kecerdasan kinestetika-raga (cerdas raga), kecerdasan musik (cerdas musik), kecerdasan interpersonal (cerdas orang), kecerdasan intrapersonal (cerdas diri), kecerdasan naturalis (cerdas alam), serta kecerdasan eksistensial.

Gambaran tersebut memungkinkan bahwa masih banyak potensi tersembunyi (hidden capacities) dari anak manusia yang belum terungkap secara eksplisit. Walau demikian, dengan mengacu pada pandangan Gardner terdapat tiga pelajaran mendasar tentang makna kecerdasan jamak diantaranya:

a.       Meskipun kecerdasan itu beragam, tetapi semuanya sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting dari kecerdasan yang lainnya.

b.      Potensi kecerdasan setiap anak kadarnya tidak persis sama, tetapi berpeluang dieksplorasi, ditumbuhkan, dan dikembangkan secara optimal

c.       Semua jenis kecerdasan (MI) ditemukan di semua lintas kebudayaan di seluruh dunia dan kelompok usia; termasuk pada anak-anak Indonesia

Lepas dari seberapa kompleks kecerdasan yang melekat pada setiap anak, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana dapat mengembangkan setiap dimensinya secara efektif dan tepat, sehingga dapat mengantarkan setiap anak Indonesia menjadi manusia yang lebih baik.

Terdapat salah satu rekomendasi umum dalam menfasilitasi anak yang telah teruji dan dipromosikan diterapkan dibanyak tempat (negara), yaitu dengan penerapan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP). Dalam penerapannya mengacu kepada tiga patokan kunci (NAEYC) yang harus diperhatikan agar semua dimensi kecerdasan jamak anak dapat berkembang secara efektif. Ketiga patokan utama tersebut, yaitu dalam pengembangan kecerdasan jamak anak hendaklah:

1.       Selaras dengan tingkatan usia anak (age appropriateness)

2.       Selaras dengan karakteristik individual anak (individual appropriateness)

3.       Selaras dengan konteks sosial-budaya anak (cultural and social context appropriateness)

Pertanyaannya adalah bagaimanakah supaya sukses-efektif  dalam menselaraskan antara pengembangan kecerdasan jamak dengan prinsip DAP? Ada beberapa saran (anjuran) bagi pendidik, yaitu:

1.       Membangun suasana-hubungan yang menunjang terjadinya pengembangan kecerdasan anak

2.       Menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan kecerdasan anak (aman, sehat, mendorong eksplorasi)

3.       Mengupayakan agar program pengembangan kecerdasan anak dari waktu ke waktu semakin selaras dengan karakteristik setiap anak (perangai, minat, kebutuhan, budaya, hadiah,dll)

4.       Menggunakan hasil penilaian sebagai dasar penyempurnaan pengembangan kecerdasan anak, sehingga program lebih responsif-efektif dan fleksibel dengan informasi (masukan) hasil penilaian terkini.

5.       Pendidik sangat dianjurkan menjalin kemitraan dengan orang tua sebagai orang yang paling memahami karakteristik individual anak (parent as an expert) sehingga arah pencerdasan anak semakin selaras dan mendapat titik temu (disepati bersama)

Tindakan operasional-methodologis yang lebih konkrit tentulah diharapkan terjadi dalam proses pembelajaran antara pendidik (orang tua) dengan anak usia dini itu sendiri. Bahkan hal ini merupakan bagian utama yang harus sangat diperhatikan dalam pengembangan setiap dimensi kecerdasan anak agar senantiasa selaras dengan perkembangannya. Dengan menghargai anak sebagai individu yang aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (ajaran konstruktivistik), pengakuan atas karakter dasarnya anak yang berada pada tataran kognitif-konkrit, kesadaran atas proses pelekatan kecerdasan (memorized) pada anak bersifat akumulatif, tindakan menghormati prinsip belajar sepanjang hayat (long life education) serta harapan semua dimensi kecerdasannya dapat berkembang dengan baik (sesuai tujuan internal dan instrumental PAUD), maka penulis (juga dengan menyimak pada pandangan: Piaget, Vygotsky, Montessori, Erikson, Smilansky) mengajukan tiga cara utama (strategi umum) yang dapat digunakan para pendidik untuk mengembangkan kecerdasan jamak pada anak usia dini, yaitu dengan:

1.       Memberikan kesempatan eksplorasi yang memadai pada setiap anak

Eksplorasi merupakan kesempatan anak untuk menelusuri dan memanipulasi sesuatu secara fisik. Kesempatan tersebut merupakan ‘sesuatu’ yang luar biasa untuk mendapatkan informasi (kecerdasan) melalui segenap inderanya. Dengan fitrah kekuatan rasa ingin tahu yang tinggi dari setiap anak, maka eksplorasi merupakan landasan dari sebagian besar pengembangan kecerdasan jamak anak. Agar eksplorasi menjadi efektif dalam pengembangan potensi kecerdasan jamak setiap anak, hendaklah pendidik (orang tua):

a.       Memberikan keleluasaan dalam mengekplorasi setiap bagian objek (unit objek)

b.      Memberikan waktu yang cukup, bahkan lebih kepada anak untuk kegiatan eksplorasi

c.       Berhati-hati dalam mengalihkan anak, jangan sampai merusak fokus pengembangan kecerdasannya (Penerapan prinsip 3J: Jangan Marah Dulu, Jangan Melarang Dulu, Jangan Menyuruh Dulu, ilustrasi dan penerapannya dijelaskan pada saat presentasi)

d.      Mendukung dengan lingkungan, material yang lebih kaya, bermakna dan fungsional

e.      Menyediakan diri sebagai ‘fasilitator’ yang signifikan untuk menggenapi kecerdasan anak.

 

2.       Meningkatkan mutu interaksi pedagogis dengan anak

Interaksi merupakan hubungan timbal-balik dengan anak, yang tentunya pengaruhnya juga akan bersifat ‘timbal-balik’ dan membekas. Dengan kesadaran bahwa interaksi akan memberi pengaruh yang membekas dan berdampak pada kecerdasan anak, maka interaksi merupakan media fungsional dalam mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan jamak anak. Agar interaksi menjadi efektif bagi pengembangan kecerdasan anak, maka dalam interaksi pendidik (orang tua) hendaklah:

a.       Terampil memberi respon yang dapat memperkaya bahasa anak

b.      Menggunakan kata-kata atau kalimat yang dapat membangun karakter positif anak

c.       Memelihara bahasa komunikasi dengan ucapan (lafal), makna dan struktur yang baik dan benar

d.      Bersikap dan berperilaku selaras dengan ucapan dan yang semestinya

e.      Jangan memutus-memotong tunas potensi bahasa anak, terutama bahasa ekpresif anak, ilustrasi dan penerapannya dijelaskan pada saat presentasi)

 

3.       Memberikan dukungan logika yang efektif dan tepat

Logika adalah ketepatan dalam berpikir dan merupakan bagian penting yang harus ‘dipahami dan diasah’ karena merupakan dimensi kecerdasan jamak yang utama. Cara berpikir anak usia dini masih konkrit, untuk itu perlu mendapatkan dukungan dari pendidik (orang tua) sehingga dapat berkembang dengan baik, cara efektif yang dapat dilakukan untuk pengembangan logika anak diantaranya:

a.       Dengan mengajukan pertanyaan secara efektif (emergence, kontekstual, mengungkap-menggiring pada  menggali yang tersembunyi-tidak nampak)

b.      Dengan menunjukkan phenomena-gejala-obyek secara tepat dan fokus; yang diiringi keyakinan bahwa anak-anak melihatnya/memperhatikannya dengan baik

c.       Dengan memberikan penjelasan dan arahan yang sederhana dan mudah dipahami atau simple ilustration (simplified teaching, exposes, demonstration)

d.      Dengan memberikan ilustrasi dan demostrasi pengulangan yang memadai sehingga fungsi penyimpanan dalam otak (memorized) bekerja dengan efektif.

e.      Dengan memberikan kesempatan terlibat dengan dan atau seperti obyek, gejala, prosedur, dan logika yang diperkenalkan atau yang dikembangkan

 

 

Dari tiga strategi utama di atas, secara teknis para pendidik (orang tua) dapat mengidentifikasi berbagai kegiatan ‘spesifik’ yang dapat didesain secara khusus dan dapat menjadi bagian terintegrasi dari praktek pengajaran di PAUD, bahkan dengan menggunakan pendekatan ‘dimensional’ per aspek kecerdasan  jamak atau berdasar parsial setiap jenis kecerdasan jamak, maka kecerdasan anak dapat dikembangkan secara optimal. Berikut gambaran kegiatan spesifik dan dimensi atau aspek kecerdasan yang dapat dikembangkannya, misalnya:

 

Dimensi Kecerdasan

Fasilitasi

Pengembangan

Media dan Sumber Belajar Alternatif

Orientasi Dewasa

Ruang/Gambar (Pandangan)

 

·     Bermain main puzzle-maze

·     bercakap-cakap  dengan gambar-foto

·     Menggambar, mencoret-coret, mendesain

·     Kegiatan mind-mapping

·     Sediakan perpustakaan gambar

·     permainan imajinasi,

·     dll

·  Teka-teki

·  Buku bergambar-alat tulis, alat lukis

·  Foto-foto

·  Peta

·  Grafik-diagram

·  Maze

·  Video, film, slide

·  Kunjungan ke museum

·  dll

·  Ahli rancang gambar

·  Ahli kerajinan

·  Ahli Mechanik

·  Therapist

·  Psychologists

·  Philosophers

·  dll

Bahasa

·     Membaca

·     Menulis

·     Bercerita

·     Diskusi-debat

·     bermain dgn permainan kata-kata (tebak kata)

·     Mendengar kaset cerita

·     Monolog

·     Menuliskan ide

·     Mencari kata

·     Mendengarkan puisi

·     Menonton wayang

·     Belajar bahasa kedua (bahasa asing)

·     dll

·  Alat tulis-menulis,

·  Buku

·  Kamus

·  Tape

·  Mesin ketik / computer pengolah kata

·  Dll

·  Guru-pendidik

·  Pengacara

·  Orator

·  Pembaca Berita

·  Penulis buku-cerita

·  Pendongeng

·  Dalang

·  Pembaca puisi-sajak

·  Reporter

·  dll

Logika Matematika

·     Menghitung obyek atau Menghitung di otak

·     Bermain dengan strategi

·     Latihan mengestimasi

·     Melakukan Eksperimen,

·     Percobaan ilmiah,

·     Selesaikan masalah,

·     dll

·  Media bermain berhitung

·  Kalkulator

·  Bahan-bahan untuk melakukan eksperimen,

·   bahan-bahan IPA,

·   kunjungan ke planetarium dan museum IPA

·  dll

·  Ahli Mathematika

·  Insinyur (Engineers)

·  Ahli Fisik

·  Ilmuwan (Scientists)

·  Peneliti-Investigation

·  Programer komputer

·  dll

Fisik dan Gerak

·     Menari

·     Berlari

·     Membentuk

·     Menyentuh

·     Olahraga

·     Gerak tubuh

·     Mainkan drama

·     Relaksasi

·     Meraba-utak-atik (koordinasi tangan-mata)

·     Bermain tebak gerakan

·     Cari ide gerak saat olah raga

·     Belajar kerajinan tangan

·     dll

·  Alat-alat penujang olah raga

·  Perabot rumah tangga: sendok, garpu, dll

·  Perabo pertukangan: Palu, obeng, dll

·  Lilin-plastisin mainan

·  Alat-alat menari-bermain dama

·  Media kerajinan tangan

·  dll

·  Atlet, olaragawan

·  Ahli kerajinan (Handicrafts- Craftsmen)

·  Pandai menari (dancers)

·   dll

Musik dan Ritme

·     Berdendang- bersenandung

·     Bernyanyi sendiri atau  bersama (teman)

·     Memperdengarkan sebanyak mungkin music

·     Bersiul,

·     Mengetuk-ngetuk dengan kaki dan tangan,

·     Mengaji

·     dll

 

·  Koleksi musik/lagu

·  Radio Tape

·  Alat musik

·  Teks lagu / bacaan Al-Qur’an (lagu rohani)

·  dll

·  Penyanyi

·  Pemusik

·   Pencipta lagu

·  Penilai music

·  dll

 

Interpersonal

·     Berlatih berteman

·     Diperkenalkan dengan orang baru

·     Kesempatan bersama dan bekerja sama,

·     Kesempatan memimpin,

·     Kesempatan mengatur dan bertindak sebagai penengah

·     Berhadapan dengan bersukaria

·     Bermain peran (sosio-drama)

·     dll

·  Mainan halma-ular tangga, catur, monopoli, dll

·  Alat ke pesta (baju, dll)

·  Perangkat bermain peran (role play),

·  dll

·  Politikus

·  Kiai/pendeta,

·  Pekerja sosial

·  Motivator,

·  Dll

 

Intrapersonal

·     Menyusun tujuan (cita-cita)

·     Membuat pilihan-pilihan

·     Berperan sebagai penengah

·     Mengingat-mencatat  mimpi

·     Kesempatan merenungkan hari-hari

·      dll

·  Buku harian

·   Alat untuk

·  Ekspresi diri, missal: cermin

·   Ruang merenung

·  dll

·  Novelist

·  Therapist

·  Psychologists

·  Philosophers

·  dll

Alam

·     Berkebun: menanam benih dan mengamati pertumbuhannya,

·     melakukan penyelidikan terhadap alam,

·     Bermain-interaksi dengan binatang, membesarkan binatang,

·     menetaskan telur, mengamati burung

·     berbaring dihalaman dan menatap ke langit

·     mengumpul bebatuan,

·     menghargai planet bumi

·     membaca buku/majalah ttg alam

·     dll

·  Tumbuhan

·  Bijian-bijian benih

·  Lingkungan alam: sawah, kebun, dll

·  Binatang peliharaan

·  kaca pembesar, teleskop, dll

·  Bebatuan

·  dll

·  Petani/Farmer

·  Pemburu/Hunters

·  Tukang Taman/ Gardeners

·  Ahli pertanian /Horticulturist

·  Peternak handal

·  dll

Eksistensial

 

·     Mengunjungi-menjenguk orang sakit,

 

·     Kesempatan memandang dari sudut luas atau sudut lain

 

·     Kesempatan merenung,

 

·     Kesempatan membandingkan sesuatu

 

·     Dll

·  Teman yang sakit atau kena musibah

·  Film atau video

·  Ruang atau tempat merenung

·  dll

 

·        Pemimpin

·        Philosop

·        Penemu

·        Orang bijak

·        dll

 

Untuk menguasai dengan baik tiga cara utama dan teknis-teknis pengembangan kecerdasan jamak di atas tentulah setiap pendidik (orang tua) harus terus berlatih dan berusaha menjadi ‘diri’ yang efektif sebagai ‘agen’ pengembang kecerdasan jamak setiap anak. Untuk itu mulai sekarang, mulai saat ini harus membiasakan diri :

1.       Membiasakan diri merekam-mencatat perangai, perilaku dan dinamika anak dengan catatan dan keterangan yang terbaca dan memadai.

2.       Senantiasa menghargai potensi awal anak (sekecil apapun), sebagai tunas potensi yang berharga dan luar biasa dalam pengembangan berbagai dimensi kecerdasannya

3.       Senantiasa mencocokan tindakan dan fasilitasi sesuai arah perkembangan anak (Wahai pendidik: ubah dirimu sesuai tuntutan “gambaran’anak-anakmu)

4.       Senantiasa mengembangkan kepekaan dan emphatik terhadap kebutuhan perlakuan sesuai harapan dan arah kecerdasan anak-anak (agar terjadi emphatic teaching-spontaneous teaching-emergence teaching yang terkendali dan efektif)

5.       Senantiasa mencari media, bahan, alat dan sumber belajar yang paling efektif dan terperbaharui dari waktu ke waktu. Material tersebut sangat melimpah di sekitar kita, untuk itu bukalah mata dan tingkatkan kreatifitas Anda.

6.       Tambahan penyempurna, (jika memungkinkan?!) Kembangkan model-model lesson study dan classroom action research, sehingga perencanaan, pelaksanaan dan pengembangan pembelajaran untuk peningkatan kecerdasan anak semakin selaras  dengan tuntutan kecerdasan jamak anak. (ini sebetulnya cukup mudah untuk diterapkan di PAUD).

 

Kepustakaan:

Bredekamp, Sue; Copple, Carol (editors). (1997). Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood Programs (revised edition). Washington, DC: National Association for the Education of Young Children (NAEYC).

Bredekamp, Sue; Rosegrant, Teresa (editors). (1987). Reaching Potentials: Appropriate Curriculum and Assessment for Young Children, Volume I. Washington, DC: National Association for the Education of Young Children (NAEYC).

Downs, J., Blagojevic, B., Labas, L., Kendrick, M., & Maeverde, J. (2005). Thoughtful Teaching: Developmentally Appropriate Practice. In Growing Ideas Toolkit

http://www.ccids.umaine.edu/ec/growingideas/dapres.htm

 

 

 

SILABUS MK PENGEMBANGAN SAINS PADA ANAK USIA DINI April 17, 2007

Filed under: SILABUS/PROGRAM — kampusnugraha @ 2:01 am
Tags: , , , , ,

SILABUS PENGEMBANGAN SAINS PADA AUDI

Mata Kuliah                : Sains Untuk Anak Usia Dini

Program Studi             : PG-PAUD Universitas Pendidikan Indonesia

Dosen                          : Ali Nugraha                                   

 I.        DESKRIPSI MATA KULIAH

Mata kuliah ini ditujukan untuk membekali mahasiswa agar memiliki kemampuan dalam pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini. Pembekalan terutama terkait dengan konsep pembelajaran sains, penerapan , penilaian serta masalah-masalah yang dihadapi. Pembekalan dilakukan baik melalui kajian teoritis di kelas, studi kasus (observasi) di lapangan, serta simulasi/praktek langsung. 

II.     TUJUAN MATA KULIAH / STANDAR KOMPETENSI MATA KULIAH

Mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan:1.      memahami secara konseptual pembelajaran sains bagi anak usia dini secara tepat.2.      memiliki keterampilan dalam menerapkan pembelajaran sains pada anak usia dini secara efektif dan berkualitas.3.      memililiki kemampuan menilai pembelajaran sains pada anak usia dini dengan tepat dan komprehenshif.4.      mendeteksi segala permasalahan dan menemukan jalan keluarnya dalam pembelajaran sains pada anak usia dini. 

III.   POKOK-POKOK MATERI

Pertemuan Ke..

Komptensi Dasar

Materi

 I

Mahasiswa memahami hakekat sains yang meliputi: konsep sains, sains dalam kehidupan, serta keunggulan dan kelemahannya.

Hakekat Sainsa.   Konsep sainsb.  Sains dalam kehidupanc.   Keunggulan dan kelemahan sains

 II

Mahasiswa memahami keterkaitan sains dan anak usia dini serta dapat mengidentifikasi nilai/manfaat sains bagi pengembangan anak.

Sains dan Anaka.       Hakekat anak usia dinib.      Nilai/manfaat sain bagi pengembangan anak

 III-IV

Mahasiswa memahami pentingnya pembelajaan sains bagi anak usia dini, baik terkait tujuan, karakteristik maupun ruang lingkupnya.

Pentingnya pembelajaran sains bagi anaka.   Tujuan pembelajaran sainsb.  Karakteristik belajar anakc.   Ruang lingkup materi sains untuk anak

  VII-XII 

Mahasiswa memiliki keterampilan dalam  melaksanakan pembelajaran sains pada anak usia dini, baik perencanaan, media-sumber, maupun pengelolaan kelas/kegiatannya.

Pelaksanaan pembelajaran sains :a.   Perencanaan pembelajaraan sainsb.   Pengembangan dan pemanfaatan media/sumber belajar sainsc.   Pengelolaan kelas/kegiatan sainsd.   Analisis Rekaman Praktek dari Lapangan (VCD)

VIII

UTS

 XIII-XIV

Mahasiswa mampu melakukan evaluasi pembelajaran sains pada anak usia dini

Evaluasi Pengembangan Sains:a.       Definisi evaluasi pembelajaran sainsb.      Jenis-jenis evaluasi pembelajaranc.       Teknik/prosedur evaluasi pembelajaran sains

 

XV 

Mahasiswa memahami pengembangan sains bagi anak yang berkebutuhan khusus

Pembelajaran sains bagi anak berkebutuhan khusus:a.       Bagi anak penderita gangguan visualb.      Bagi anak penderita gangguan Pendengaranc.       Bagi anak penderita gangguan Fisik-motorikd.      Bagi anak penderita gangguan Emosional

Mahasiswa mampu memahami permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran sain serta solusinya.

Masalah-masalah pembelajaran sains dan solusinya.

XVI

UJIAN AKHIR SEMESTER

IV.  STRATEGI PERKULIAHAN

  1. Tatap muka di kelas
  2. Observasi lapangan
  3. Simulasi (praktek)
  4. Studi kepustakaan mendalam

V.     EVALUASI PERKULIAHAN

1. Ujian Tengah Semester                           : 25 %

2. Ujian Akhir Semester                              : 40 %

3. Tugas (Observasi, paper, praktek)         : 25 %

4. Partisipasi kelas                                      : 10 %

VI.  KEPUSTAKAAN

Abbruscato, Josep (1997), Teaching Children Science, : Prentice-Hall.IncUSA

 

Amien, Moch., MA., Dr. (1987), Menggunakan Metode Discovery Dan Inquiry, Jakarta: Dirjen Dikti, P2-LPTK

Bambang Hidayat. (2000), Pengetahuan Alam dan Pengembangannya: Matematikan dan IPA dalam Perguruan Tinggi, Jakarta: Diknas-Dirjen Dikti

Beaty. J. Janice . (1994) Observing Devopment of Young Child. (third Edition). New Jersey: By Prentice-Hall. Inc 

Bateman. C.F. (1990). Empowering Your Child : How To Help Your Child Succed In  School and in Life. Norfolk, V.A : Hampton Roads.  Eliason, Claudia & Jenkin, Lea (1994), Practice/Guide to Early Childhood Curriculum, MacMillan College Pub. Company

Elkin. D. (1981). Child Development and Early Childhood Education : Where do we  Stand to day? Young Children.  

 Estiti B. Hidayat. (2000), Pengetahuan Alam dan Pengembangannya: Pengembangan Sains dasar di LPTK, (editor: Bambang Hidayat dan Sutrisno),
Jakarta: Diknas-Dirjen Dikti

Goleman. D. (1995). Emotional Intelligence. New York : Bantam Books 

Holton dan Roller (1958), Foundation of Modern Physical Sciences, Reading, Massachusets: Addison-Wesley

Holman J. (1986), Science and Technology in Society: General Guide for Teachers, College Lane: ASE (Association for Science Education).

Jurgen, Hans (1987), Bergembira Dengan Sains, Bandung: Titian Ilmu 

Laurence M. Gould (Suparno, R, (1981), IP dan Kebudayaan Masa Kini, Jakarta: Balai Pustaka 

Lundsteen, Sara Wynn & Tarrow, Norma Bernsten (1981), Guide Young Children,
New York : Mc.Graw Hill Book Company

MT Zen, (1981), Sain, Teknologi Dan Hari Depan Manusia, Jakarta: Gramedia 

Nggermanto, Agus, 2001. Quantum Quotient (Kecerdasan Quantum). Bandung; Yayasan Nuansa Cendekia. 

Nugraha,  Ali, 2000, Tumbuh dan Belajar Anak Usia Dini, Bogor: KKB-Bakat 

Nugraha, Ali (2003), Pengembangan Sains Pada Anak Usia Dini, Jakarta: Dikti-Depdiknas 

 Nurmasari sartono (1992/93), Proses Mental Yang Berlangsung Dalam Pembelajaran IPA, Jakarta: Depdikbud-Dikdasmen P2GSLTP 

 

Seefeldt, Carol (1980), Teaching Young Children, New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Sembiring RK. (2000), Pengetahuan Alam dan Pengembangannya: Tinjauan Selayang Pandang Perkembangan Sains Dasar di Beberapa Negara (editor: Bambang Hidayat dan Sutrisno), Jakarta: Diknas-Dirjen Dikti 

Sumaji, dkk., (1988). Pendidikan Sains Yang Humanistis, Yogyakarta; Kanisius 

Sugianto, Mayke, T. (1995). Bermain, Mainan dan Permainan. Jakarta: Depdikbud.

Sund and Corring (1988), Teaching Science Through Discovery (Sith Editition), Columbus: Merryl Pub. Company

Suparno, R, (1981), Ilmu Pengetahuan Idaman atau Ancaman,
Jakarta: Balai Pustaka

Udin S. Winataputra (1992/93), Implikasi Praktis Teori dan Temuan Penelitian Ilmu-Ilmu Perilaku Terhadap Pembelajaran di Sekolah Menengah, Jakrata: Depdikbud-Dikdasmen P2GSLTP

Welton, David A & Mallon, John T (1981), Children and Their World, Strategies For Teaching, Boston: Houghton Milton Company

 Ernest Hagel (Indrawati: 1995), Sains, Teknologi dan Masyarakat (SATEMAS),
Bandung: P3G

 

Djohar (1989), Dimensi Pendidikan Sains Menyongsong Tahun 2000, Yogyakarta: IKIP Yogya 

 

JIKA ADA KESULITAN April 5, 2007

Filed under: KONTAK — kampusnugraha @ 8:34 am
Tags: , , ,

Silakan hubungi dengan email berikut:

ALI NUGRAHA

sqii_ind@yahoo.co.id

ali_jilsi@yahoo.co.id

 

JADWAL KULIAH

Filed under: JADWAL — kampusnugraha @ 8:27 am

JADWAL PERKULIAHAN

Hari

Waktu

Materi

Tempat

Senin 08.00-10.00

10.00-12.00

13.00-15.00

Konsep Dasar PAUD

Sains Untuk Anak Usia Dini

Supervisi PAUD

 
Selasa 08.00-10.00

10.00-12.00

13.00-15.00

Metode Pengemb Kognitif

Evaluasi PAUD

Belajar dan Pembelajaran

 
Rabu 08.00-10.00

10.00-12.00

Kurikulum Pembelajaran

Bimbingan Skripsi

 
Kamis 08.00-10.00

10.00-12.00

13.00-15.00

Media Pendidikan

Kurikulum TK/RA

Bermain

 
Jum’at 08.00-10.00

10.00-12.00

13.00-15.00

IPS untuk AUDI

Inovasi Pembelajaran PAUD

Pengembangan Bahasa Anak

 
Sabtu 08.00-10.00

10.00-12.00

13.00-15.00

Pengembangan Sosio-Emosi Anak

Kurikulum dan Bahan Ajar

Dasar-Dasar Matematika dan Sains

 
Minggu 08.00-10.00

10.00-12.00

13.00-15.00

Kirulum dan Bahan Ajar TK/RA

Dasar-Dasar Matematika dan Sains

Inovasi Pembelajaran PAUD

 

 

JADWAL DINAMIS (PROYEK/PRESENTASI)

Filed under: JADWAL — kampusnugraha @ 8:22 am
Tags: , , , ,

NO

KEGIATAN

KETERANGAN

1

Pengembangan Salman Al-Farisi Bandung

SD, SMP

2

Pengembangan Sekolah Unggul Purwakarta

SD

3

Pengembangan PAUD Model

Bandung

4

Konsultan APE BPPLSP

Regional 2 Bandung

5

Diklat PAUD

Himpaudi Jabar

6

Konsultan PAUD Bermutu

Samarinda

7

Konsultan Pengembangan Pembelajaran Sains

Cibubur

8

Konsultan SD Islam Bermutu

Balikapapan

9

Konsultan Implementasi Lesson Study di PAUD

Bandung

10

Konsultan Kurikulum

Bandung, Cimahi

 

 

SPIRITUALITAS BISNIS April 4, 2007

Filed under: Uncategorized — kampusnugraha @ 12:33 am
  1. Dalam bisnis timbul gejala menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Etika bersaing dalam bisnis tidak lagi dijalankan secara elegan, professional dan sportif. Cara-cara menerabas justru semakin tumbuh subur ditengah iklim turbulensi sosial yang carut marut ini. Salah satu penyebabnya adalah adanya fenomena kepribadian yang terbelah, yang menempatkan agama sebagai wilayah pribadi terpisah dari tanggung jawab sosial. Padahal sesungguhnya nilai-nilai dalam ibadah ritual mengandung pesan sosial yang inherent dengan ritus itu sendiri. Dalam bahasa sufi dinyatakan bahwa seseorang yang mampu menangkapatmosfir iman dan takwa adalah yang menjadikan hamparan bumi Allah ini sebagai sajadah panjang. Senantiasa membawa semangat nilai ibadah dalam setiap langkah ke kehidupan keseharian. Tuhan telah memperingatkan, : ’celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (al-Maa’uun/107: 4-7). Sebagian muffasir mengartikan sebagai orang shalat yang tak membayar zakat, yang tidak memiliki kepekaan sosial terhadap kehidupan kaum fakirmiskin dan mustadh’afin yang sangat membutuhkan pertolongan. Demikian juga diperingatkan betapa orang yang berpuasa tidak memperoleh balasan kecuali lapar dan dahaga karena tidak mampu menangkap makna dari ibadah yang dijalankannya. Ketidaktahuan atau tepatnya ketidakpedulian disebabkan membutakan diri dari esensi makna ibadah dan tidak berimbas dalam berinteraksi sosial. Hati kosong yang tidak mampu  menggunakan sumberdaya kecerdasan ruhaniahnya, mendorong timbulnya budaya permisivisme dengan mengabaikan nilai-nilai moralitas. Budaya yang tidak taat azas, mudah kompromi dengan hal-hal dalam wilayah grey area adalah salah satu ciri manusia yang tercerabut dari nilai-nilai spiritualitas.
  2. diskursus dalam buku ini mendekati fenomena tersebut dengan wacana alternatif, berupa pendalaman nilai-nilai spiritual yang membimbing kalangan profesional, pengusaha, manajer dan sispapun yang berkiprah dalam lingkungan bisnis (agribisnis) agar mampu menggali sumberdaya fisik dan metafisiknya yang dikendalikan qolbun salim. Mengajak mengasah nurani untuk melihat bisnis secara lebih substansial dengan menggunakan dasar-dasar ajaran agama sebagai sumber nilai spiritualitas, sasarannya memperoleh pencerahan menuju hati nurani yang bersih, sarat makna yang memperoleh hidayah dari sang khalik.
  3. Sejarah perkembangan manajemen perilaku manusia didasarkan atas pendekatan yang berbasis kecerdasan intelektual (IQ, intelligence quotions), emosi (EQ, emotional quotions, dan spiritualitas (SQ, spiritual quotions). Kecerdasan merupakan karunia yan memiliki nilai tinggi bagi manusia. Dalam sebuah hadits Rasullulah bersabda’ Nabi sulaiman disuruh memilih antara harta, kekuasaan dan ilmu pengetahuan, lalu dipilihnya pengetahuan, sebab itu berikan kepadanya kekuasaan dan harta’ (HR. Muslim). Manajemen berbasis kecerdasan intelektual mengukur kemampuan seseorang berdasarkan intelegensia, daya tahan (endurance) dan bakat. Melalui serangkaian test dapat diukur nilai IQ seseorang. Parameter IQ meliputi kemampuan kognitif dan psikomotorik yang merupakan kinerja otak kiri manusia. Kemampuan analogi, analisis, reasoning dan logika merupakan bagian dari kecerdasan intelektual. Seseorang yang memiliki IQ tinggi biasanya berkolrelasi dengan prestasi akademis. Namun demikian tidak ada jaminan orang yang cerdas berhasil dalam karier profesi maupun dalam kehidupan sosial. Untuk memperoleh keberhasilan dalam karier  dan bisnis, terkadang kematangan emosi (EQ) lebih menentukan. Seseorang yang cerdas secara intelektual, namun kurang mampu bekerja sama dalam tim (orang cerdas/jenius cenderung egois, sombong) serta tidak mampu memberikan motivasi kepada anak buah atau kolega, akan menjadi ganjalan bagi karier seseorang. Bisa jadi seorang manajer pemasaran memiliki kemampuan intelektual tinggi menganalisis pasar, membaca peluang, dan mengukur kemampuan kompetitor, namun dalam implementasinya, kemampuan bernegosiasi, keluwesan menggalang networking, leih menentukan dibanding seperangkat angka-angka ekonometri. Kematangan seseorang (emotional maturity) mengendalikan emosi, care, setia kawan dan memiliki empati sosial, memperkuat personality seseorang. Atasan, kawan dan bawahan merasa enak bekerja sama, percaya dan mampu menggugah inspirasi dalam suatu diskusi dan brainstorming untuk membahas suatu permasalahan.  Kemampuan intektual dan emosional (IQ dan EQ)belum sepenuhnya menjamin sukses dalam berorganisasi dan profesi manakala hati nuraninya tidak memperoleh cahaya hidayah Allah. Seseorang yang pandai dan luas pergauannya, namun tidak memiliki integritas moral, akan mudah terjerumus pada perilaku menyimpang yang melanggar etika, moralitas  yang bisa jadi secara kasat mata tidak mampu terjejaki. Bagi seseorang yang menggunakan kecerdasan spiritual (SQ) sebagai pedoman hidup, akan bersikap bahwa harta, profesi, jabatan dan kedudukan hanyalah titipan Allah yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Dengan SQ akan meningkat ketahanan ruhaniah seseorang, lebih amanah dan meihat sesuatu lebih jernih dan substantif. Kekuatan IQ, EQ dan SQ yang sering disingkat IESQ akan menjadi kendaraan manusia dalam kehidupan, tak mudah tergoyahkan dari godaan duniawi dengan mengorbankan kehidupan uhrowi, sebagaimana firmanya : ’hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (Ar-Rahman/55: 33). Kecerdasan IESQ akan membimbing seseorang seimbang, selaras dan serasi dalam hidupnya serta mampu menempatkan kepentingan duniawi dan uhrowi secara proporsional sesuai pedoman al-quran dan as sunah nabi.
  4. kegiatan bisnis, apapun namanya berorientasi komersial mulai dari produksi, pemasaran hingga pengelolaan jasa-jasa. Esensi dari diwacanakannya kecerdasan spiritual adalah untuk menggeser semua makna bisnis merupakan aktualisasi keiklasan, loyalitas dan komitmen hidup  hanya semata kepada Tuhan. Mengemban motivasi bisnis (profesi) sebagai ibadah dan manifestasi pengabdian kepada sang pencipta.
  5. Paling tidak terdapat 3 alasan utama mengapa kecerdasan spiritual perlu dikedepankan sebagai model pendekatan manajemen (bisnis) sebagai berikut:
    1. perkembangan dan kemajuan teknologi informasi (TI) yang berlangsung sangat cepat telah menyebabkan terjadinya kegamangan. Kemudahan mengakses informasi telah menyebabkan dunia laksana ’desa dunia’, dimana peristiwa yang terjadi di suatu tempat di benua lain, dapat dengan mudah disaksikan langsung (live) di depan pesawat televisi. Pada sisi lain, sikap mental dan cara berpikir belum mampu menyerap nilai-nilai positif yang dibawa oleh kemajuan TI. Akibatnya terjadi gejala benturan budaya (shock culture). Lompatan dari peradaban agraris ke abad cybernetic, telah mengakibtkan manusia tercerabut dari akar budayanya sendiri. Sebagian masyarakat mengalami kekosongan jiwa dan mudah tergelincir dalam praktek hidup yang mengabaikan etika, berlaku curang demi kepentingan pribadi dan jangka pendeknya. Allah berfirman: ’kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi (al-muthafiffiin/83:1-3).
    2. Globalisasi perdagangan dunia, telah menciptakan iklim kompetisi yang ketat. Perdagangan lintas dunia bisa terjadi dan hambatan jarak nyaris tidak ada masalah, selama perusahaan masih memiliki margin keuntungan. Alat transportasi mampu menjangkau destinasi, dimana pun dipeloksok dunia dalam hitungan jam. Sistem layanan, deliveri packaging dan teknik pengawetan, nyaris menghilangkan hambatan interaksi bisnis antar negara dan kawasan. Dalam kondisi demikian, pelaku bisnis harus mampu merevitalisasi cara berpikir untuk mempertahankan atau bahkan memperluas kiprah bisnisnya. Pada kondisi berpacu dalam kompetisi yang ketat, peluang dan frekuensi stress menjadi lebih besar. Kecerdasan intelektual dan emosional seringkali mengalami kelebihan beban (overload) dan tak mampu lagi menanmpung beban yang ditanggungnya. Pada keadaan demikian, kecerdasan spiritual dibutuhkan kehadirannya sebagai sumber nilai untuk merespon dan mencari solusi melalui dimensi alternatif. Pribadi yang memiliki perbendaharaan spiritualitas, menerjemahkan beban sebagai fitrah yang semestinya dihadapi dengan riang, wajar dan proporsional. Tak ada jalan buntu dalam perspektif Qur’ani, dalam penutup surat al-baqoroh/2: 286 Allah berfirman:’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..’ manakala mengalami tekanan berat berkaitan dengan masalah keduniaan, manusia diminta berdoa:’Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atu bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagimana engaku bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir (Al-baqoroh/2: 286).

Dampak reformasi yang melanda bangsa indonesia akhir tahun 90-an, sejak jatuhnya orde baru terjadi perubahan, namun arahnya bukan bertambah baik, melainkan sebaliknya. Tindak KKN mengebiri hukum, dan budaya permisipvisme berkembang bagai jamur dimusim hujan; sementara penegakkan hukum, etika dan keteladanan pemimpin sudah menjadi barang langka. Pada saat yang sama orang sibuk memikirkan urusan pribadi dan kelompoknya masing-masing. Kesibukan mempertahankan jabatan, kekuasaan dan akses ke penguasaan sumber ekonomi, korupsi dan nepotisme seperti dikejar waktu (dead line). Seruan penegakan good governance atau good corporate goverrnance ditanggapi dengan apriori dan ringan, ’biarkan anjing menggonggong,kafilah berlalu’ penghianatan kekuasaan atas rakyat kecil, sudah menjadi fenomena sehari-hari. Seruan kebenaran tertelah oleh arus bah(main stream) yang melindas apa dan siapa saja yang dilewatinya. Dalam menghadapi masa tubulensi, dimana filter rohani menjadi rentan, tak mampu menampung beban. Komitmen Ilahiah dan istiqomah dalam pendirian, akan membimbing pribadi qolbun salim untuk senantiasa konsisten, berjalan pada koridor

 

SILABUS : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI March 30, 2007

Filed under: SILABUS/PROGRAM — kampusnugraha @ 8:34 pm

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI FAKULTAS TARBIYAH
BANDUNG
 SILABIS MATA KULIAH 

Nama Mata Kuliah                   : Kurikulum TK/RA

Bobot                                       : 3 SKSJurusan/Program                       : PGTK/PGRASemester/Jenjang                      : III / D-2

Dosen/Kode                             : Ali Nugraha / 9005

Prasyarat                                  : - 

  1. Tujuan Perkuliahan:

Secara umum perkuliahan ini ditujukan untuk membekali para mahasiswa program D-2 PGTK IAIN agar menguasai secara komprehensip tentang ruang lingkup kurikulum pra-sekolah pada umumnya dan kurikulum pendidikan TK/RA, sehingga lulusan dapat mengembangan kurikulum pada jenjang tertesebut secara memadai. Sedangkan secara lebih khusus, berbagai tujuan tersebut tergambar sebagai berikut:1.      Memahami batasan kurikulum, khususnya kurikulum untuk pendidikan pra-sekolah (TK/RA) 2.      Memahami landasan dalam pengembangan kurikulum, khususnya kurikulum untuk pendidikan pra-sekolah (TK/RA) 3.      Memahami komponen dalam pengembangan kurikulum, khususnya kurikulum untuk pendidikan pra-sekolah (TK/RA) 4.      Memahami kurikulum yang berlaku dan digunakan untuk pendidikan pra-sekolah (TK/RA)5.      Memahami strategi implementasi, khususnya bermain sebagai landasan pokok dalam pengembangan kurikulum untuk pendidikan pra-sekolah (TK/RA)6.      Memahami pengembagan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum untuk pendidikan pra-sekolah (TK/RA) B.  Materi  Perkuliahan:            1.      Batasan dan pengertian kurikulum pendidikan pra-sekolah (TK/RA): tinjauan para ahli berdasrkan berbagai sudut pandang2.      Landasan-landasan dalam pengembangan kurikulum pendidikan pra-sekolah (TK/RA): filosofis, psikologis, sosiologis, organisatoris, dan Iptek.3.      Anatomi kurikulum dan interrelasinya pada kurikulum pendidikan pra-sekolah (TK/RA) : tujuan dalam kurikulum TK/RA, isi kurikulum, proses, dan evaluasi.4.      Landasan, tujuan, prinsip dan isi kurikulum TK/RA (yang berlaku dan sedang dilaksanakan): PKB-TK 1994, Kurikulum RA dan KBK untuk TK/RA5.      Pengembangan kurikulum TK/RA (yang berlaku dan sedang dilaksanakan): Pengembangan tujuan/kemampuan anak, pengembagan materi/tema, pengembangan satuan kegiatan, pengembangan strategi/metode serta pengembangan evaluasi setiap kegiatan.6.      Stratetegi implementasi kurikulum TK/RA, khususnya penerapan bermain sebagai landasan pokok dalam Pengembangan kurikulum dan pembelajaran di TK/RA7.      Evaluasi kurikulum TK/RA (yang berlaku dan sedang dilaksanakan): batasan, tujuan, alat, pelaporan dan tindak lanjut. 

C.  Strategi Perkuliahan

1.      Ceramah2.      Diskusi dan Pembahasan Kasus3.      Praktek/simulsasi4.      Kunjungan Lapangan 

D. Penilaian

1.      Ujian Tengan Semester2.      Ujian Akhir Semester3.      Tugas4.      Kehadiran dan Partisipasi Perkuliahan 

E.  Sumber Bacaan

1.      Ali Nugraha, (2000), Tumbuh dan Belajar Anak Usia Dini,
Bogor: KKB-Bakat
2.      Bredecamp & Copple (1997), Developmentally Appropriate Practice,
Washington DC: NAEYC
3.      Claudia Ellison & Lea Jenkins, Practice/Guide To Early
Chilhood Curriculum, USA: McMillan College Publishing Company
4.      Diah Hariati, PKB-TK 1994,
Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud, 1994
5.      Depdiknas, Berbagai Pedoman, Buku I, II, III dan petunjuk kurikulum TK 19946.      Depdiknas, Kurikulum Berbasis Kompetensi di TK7.      Homman & Weikart (1997), Edicating Young Children: Active Learning Practices For Preschool,
Michigan : High/Scope
8.      Marjorie J. Kostelink, Teaching Young Children Using Themes, USA:Michigan
State University9.     
Sollehuddin, Konsep Dasar Pendidikan Pra Sekolah,
Bandung: FIP UPI, 2000
10.  Sobut, Complete Curruculum For Early Chilhood Education, NY

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.