KAMPUS NUGRAHA

Just another WordPress.com weblog

SPIRITUALITAS BISNIS April 4, 2007

Filed under: Uncategorized — kampusnugraha @ 12:33 am
  1. Dalam bisnis timbul gejala menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Etika bersaing dalam bisnis tidak lagi dijalankan secara elegan, professional dan sportif. Cara-cara menerabas justru semakin tumbuh subur ditengah iklim turbulensi sosial yang carut marut ini. Salah satu penyebabnya adalah adanya fenomena kepribadian yang terbelah, yang menempatkan agama sebagai wilayah pribadi terpisah dari tanggung jawab sosial. Padahal sesungguhnya nilai-nilai dalam ibadah ritual mengandung pesan sosial yang inherent dengan ritus itu sendiri. Dalam bahasa sufi dinyatakan bahwa seseorang yang mampu menangkapatmosfir iman dan takwa adalah yang menjadikan hamparan bumi Allah ini sebagai sajadah panjang. Senantiasa membawa semangat nilai ibadah dalam setiap langkah ke kehidupan keseharian. Tuhan telah memperingatkan, : ’celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (al-Maa’uun/107: 4-7). Sebagian muffasir mengartikan sebagai orang shalat yang tak membayar zakat, yang tidak memiliki kepekaan sosial terhadap kehidupan kaum fakirmiskin dan mustadh’afin yang sangat membutuhkan pertolongan. Demikian juga diperingatkan betapa orang yang berpuasa tidak memperoleh balasan kecuali lapar dan dahaga karena tidak mampu menangkap makna dari ibadah yang dijalankannya. Ketidaktahuan atau tepatnya ketidakpedulian disebabkan membutakan diri dari esensi makna ibadah dan tidak berimbas dalam berinteraksi sosial. Hati kosong yang tidak mampu  menggunakan sumberdaya kecerdasan ruhaniahnya, mendorong timbulnya budaya permisivisme dengan mengabaikan nilai-nilai moralitas. Budaya yang tidak taat azas, mudah kompromi dengan hal-hal dalam wilayah grey area adalah salah satu ciri manusia yang tercerabut dari nilai-nilai spiritualitas.
  2. diskursus dalam buku ini mendekati fenomena tersebut dengan wacana alternatif, berupa pendalaman nilai-nilai spiritual yang membimbing kalangan profesional, pengusaha, manajer dan sispapun yang berkiprah dalam lingkungan bisnis (agribisnis) agar mampu menggali sumberdaya fisik dan metafisiknya yang dikendalikan qolbun salim. Mengajak mengasah nurani untuk melihat bisnis secara lebih substansial dengan menggunakan dasar-dasar ajaran agama sebagai sumber nilai spiritualitas, sasarannya memperoleh pencerahan menuju hati nurani yang bersih, sarat makna yang memperoleh hidayah dari sang khalik.
  3. Sejarah perkembangan manajemen perilaku manusia didasarkan atas pendekatan yang berbasis kecerdasan intelektual (IQ, intelligence quotions), emosi (EQ, emotional quotions, dan spiritualitas (SQ, spiritual quotions). Kecerdasan merupakan karunia yan memiliki nilai tinggi bagi manusia. Dalam sebuah hadits Rasullulah bersabda’ Nabi sulaiman disuruh memilih antara harta, kekuasaan dan ilmu pengetahuan, lalu dipilihnya pengetahuan, sebab itu berikan kepadanya kekuasaan dan harta’ (HR. Muslim). Manajemen berbasis kecerdasan intelektual mengukur kemampuan seseorang berdasarkan intelegensia, daya tahan (endurance) dan bakat. Melalui serangkaian test dapat diukur nilai IQ seseorang. Parameter IQ meliputi kemampuan kognitif dan psikomotorik yang merupakan kinerja otak kiri manusia. Kemampuan analogi, analisis, reasoning dan logika merupakan bagian dari kecerdasan intelektual. Seseorang yang memiliki IQ tinggi biasanya berkolrelasi dengan prestasi akademis. Namun demikian tidak ada jaminan orang yang cerdas berhasil dalam karier profesi maupun dalam kehidupan sosial. Untuk memperoleh keberhasilan dalam karier  dan bisnis, terkadang kematangan emosi (EQ) lebih menentukan. Seseorang yang cerdas secara intelektual, namun kurang mampu bekerja sama dalam tim (orang cerdas/jenius cenderung egois, sombong) serta tidak mampu memberikan motivasi kepada anak buah atau kolega, akan menjadi ganjalan bagi karier seseorang. Bisa jadi seorang manajer pemasaran memiliki kemampuan intelektual tinggi menganalisis pasar, membaca peluang, dan mengukur kemampuan kompetitor, namun dalam implementasinya, kemampuan bernegosiasi, keluwesan menggalang networking, leih menentukan dibanding seperangkat angka-angka ekonometri. Kematangan seseorang (emotional maturity) mengendalikan emosi, care, setia kawan dan memiliki empati sosial, memperkuat personality seseorang. Atasan, kawan dan bawahan merasa enak bekerja sama, percaya dan mampu menggugah inspirasi dalam suatu diskusi dan brainstorming untuk membahas suatu permasalahan.  Kemampuan intektual dan emosional (IQ dan EQ)belum sepenuhnya menjamin sukses dalam berorganisasi dan profesi manakala hati nuraninya tidak memperoleh cahaya hidayah Allah. Seseorang yang pandai dan luas pergauannya, namun tidak memiliki integritas moral, akan mudah terjerumus pada perilaku menyimpang yang melanggar etika, moralitas  yang bisa jadi secara kasat mata tidak mampu terjejaki. Bagi seseorang yang menggunakan kecerdasan spiritual (SQ) sebagai pedoman hidup, akan bersikap bahwa harta, profesi, jabatan dan kedudukan hanyalah titipan Allah yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Dengan SQ akan meningkat ketahanan ruhaniah seseorang, lebih amanah dan meihat sesuatu lebih jernih dan substantif. Kekuatan IQ, EQ dan SQ yang sering disingkat IESQ akan menjadi kendaraan manusia dalam kehidupan, tak mudah tergoyahkan dari godaan duniawi dengan mengorbankan kehidupan uhrowi, sebagaimana firmanya : ’hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan (Ar-Rahman/55: 33). Kecerdasan IESQ akan membimbing seseorang seimbang, selaras dan serasi dalam hidupnya serta mampu menempatkan kepentingan duniawi dan uhrowi secara proporsional sesuai pedoman al-quran dan as sunah nabi.
  4. kegiatan bisnis, apapun namanya berorientasi komersial mulai dari produksi, pemasaran hingga pengelolaan jasa-jasa. Esensi dari diwacanakannya kecerdasan spiritual adalah untuk menggeser semua makna bisnis merupakan aktualisasi keiklasan, loyalitas dan komitmen hidup  hanya semata kepada Tuhan. Mengemban motivasi bisnis (profesi) sebagai ibadah dan manifestasi pengabdian kepada sang pencipta.
  5. Paling tidak terdapat 3 alasan utama mengapa kecerdasan spiritual perlu dikedepankan sebagai model pendekatan manajemen (bisnis) sebagai berikut:
    1. perkembangan dan kemajuan teknologi informasi (TI) yang berlangsung sangat cepat telah menyebabkan terjadinya kegamangan. Kemudahan mengakses informasi telah menyebabkan dunia laksana ’desa dunia’, dimana peristiwa yang terjadi di suatu tempat di benua lain, dapat dengan mudah disaksikan langsung (live) di depan pesawat televisi. Pada sisi lain, sikap mental dan cara berpikir belum mampu menyerap nilai-nilai positif yang dibawa oleh kemajuan TI. Akibatnya terjadi gejala benturan budaya (shock culture). Lompatan dari peradaban agraris ke abad cybernetic, telah mengakibtkan manusia tercerabut dari akar budayanya sendiri. Sebagian masyarakat mengalami kekosongan jiwa dan mudah tergelincir dalam praktek hidup yang mengabaikan etika, berlaku curang demi kepentingan pribadi dan jangka pendeknya. Allah berfirman: ’kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi (al-muthafiffiin/83:1-3).
    2. Globalisasi perdagangan dunia, telah menciptakan iklim kompetisi yang ketat. Perdagangan lintas dunia bisa terjadi dan hambatan jarak nyaris tidak ada masalah, selama perusahaan masih memiliki margin keuntungan. Alat transportasi mampu menjangkau destinasi, dimana pun dipeloksok dunia dalam hitungan jam. Sistem layanan, deliveri packaging dan teknik pengawetan, nyaris menghilangkan hambatan interaksi bisnis antar negara dan kawasan. Dalam kondisi demikian, pelaku bisnis harus mampu merevitalisasi cara berpikir untuk mempertahankan atau bahkan memperluas kiprah bisnisnya. Pada kondisi berpacu dalam kompetisi yang ketat, peluang dan frekuensi stress menjadi lebih besar. Kecerdasan intelektual dan emosional seringkali mengalami kelebihan beban (overload) dan tak mampu lagi menanmpung beban yang ditanggungnya. Pada keadaan demikian, kecerdasan spiritual dibutuhkan kehadirannya sebagai sumber nilai untuk merespon dan mencari solusi melalui dimensi alternatif. Pribadi yang memiliki perbendaharaan spiritualitas, menerjemahkan beban sebagai fitrah yang semestinya dihadapi dengan riang, wajar dan proporsional. Tak ada jalan buntu dalam perspektif Qur’ani, dalam penutup surat al-baqoroh/2: 286 Allah berfirman:’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..’ manakala mengalami tekanan berat berkaitan dengan masalah keduniaan, manusia diminta berdoa:’Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atu bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagimana engaku bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir (Al-baqoroh/2: 286).

Dampak reformasi yang melanda bangsa indonesia akhir tahun 90-an, sejak jatuhnya orde baru terjadi perubahan, namun arahnya bukan bertambah baik, melainkan sebaliknya. Tindak KKN mengebiri hukum, dan budaya permisipvisme berkembang bagai jamur dimusim hujan; sementara penegakkan hukum, etika dan keteladanan pemimpin sudah menjadi barang langka. Pada saat yang sama orang sibuk memikirkan urusan pribadi dan kelompoknya masing-masing. Kesibukan mempertahankan jabatan, kekuasaan dan akses ke penguasaan sumber ekonomi, korupsi dan nepotisme seperti dikejar waktu (dead line). Seruan penegakan good governance atau good corporate goverrnance ditanggapi dengan apriori dan ringan, ’biarkan anjing menggonggong,kafilah berlalu’ penghianatan kekuasaan atas rakyat kecil, sudah menjadi fenomena sehari-hari. Seruan kebenaran tertelah oleh arus bah(main stream) yang melindas apa dan siapa saja yang dilewatinya. Dalam menghadapi masa tubulensi, dimana filter rohani menjadi rentan, tak mampu menampung beban. Komitmen Ilahiah dan istiqomah dalam pendirian, akan membimbing pribadi qolbun salim untuk senantiasa konsisten, berjalan pada koridor

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s