KAMPUS NUGRAHA

Just another WordPress.com weblog

APLIKASI DEVELOPMENTALLY APPROPRIATE PRACTICE January 28, 2009

Oleh Ali Nugraha

Master Trainer Bidang Pendidikan Anak Usia Dini

Dari Joyful Learning Services Indonesia

————————————————————————————————————————————–

Anak adalah anugrah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita. Untuk itu perlu disyukuri dengan bermakna. Salah satu perwujudan rasa syukur yang utama adalah dengan menerima keutuhannya dan bersedia mengembangkan segenap potensinya dengan sebaik-baiknya.

Potensi anak dari manapun dia berasal (termasuk anak-anak Indonesia) berdasarkan riset terkini diyakini sangat luar biasa dan menakjubkan (sarwa potensi), sehingga cukup tepat disebut golden ages priority. Gambaran tentang potensi anak yang diyakini terpercaya, secara sederhana saat ini salah satunya  ditunjukkan dengan teori  multiple intelligences (kecerdasan jamak) yang diajukan dan dipopulerkan oleh Howard Gardner. Untuk sementara, hingga saat ini telah terindentifikasi beberapa ragam kecerdasan anak, yaitu: kecerdasan linguistik (cerdas kosakata), kecerdasan logika dan matematika (cerdas angka dan rasional), kecerdasan spasial (cerdas ruang/tempat/gambar), kecerdasan kinestetika-raga (cerdas raga), kecerdasan musik (cerdas musik), kecerdasan interpersonal (cerdas orang), kecerdasan intrapersonal (cerdas diri), kecerdasan naturalis (cerdas alam), serta kecerdasan eksistensial.

Gambaran tersebut memungkinkan bahwa masih banyak potensi tersembunyi (hidden capacities) dari anak manusia yang belum terungkap secara eksplisit. Walau demikian, dengan mengacu pada pandangan Gardner terdapat tiga pelajaran mendasar tentang makna kecerdasan jamak diantaranya:

a.       Meskipun kecerdasan itu beragam, tetapi semuanya sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting dari kecerdasan yang lainnya.

b.      Potensi kecerdasan setiap anak kadarnya tidak persis sama, tetapi berpeluang dieksplorasi, ditumbuhkan, dan dikembangkan secara optimal

c.       Semua jenis kecerdasan (MI) ditemukan di semua lintas kebudayaan di seluruh dunia dan kelompok usia; termasuk pada anak-anak Indonesia

Lepas dari seberapa kompleks kecerdasan yang melekat pada setiap anak, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana dapat mengembangkan setiap dimensinya secara efektif dan tepat, sehingga dapat mengantarkan setiap anak Indonesia menjadi manusia yang lebih baik.

Terdapat salah satu rekomendasi umum dalam menfasilitasi anak yang telah teruji dan dipromosikan diterapkan dibanyak tempat (negara), yaitu dengan penerapan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Developmentally Appropriate Practice (DAP). Dalam penerapannya mengacu kepada tiga patokan kunci (NAEYC) yang harus diperhatikan agar semua dimensi kecerdasan jamak anak dapat berkembang secara efektif. Ketiga patokan utama tersebut, yaitu dalam pengembangan kecerdasan jamak anak hendaklah:

1.       Selaras dengan tingkatan usia anak (age appropriateness)

2.       Selaras dengan karakteristik individual anak (individual appropriateness)

3.       Selaras dengan konteks sosial-budaya anak (cultural and social context appropriateness)

Pertanyaannya adalah bagaimanakah supaya sukses-efektif  dalam menselaraskan antara pengembangan kecerdasan jamak dengan prinsip DAP? Ada beberapa saran (anjuran) bagi pendidik, yaitu:

1.       Membangun suasana-hubungan yang menunjang terjadinya pengembangan kecerdasan anak

2.       Menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan kecerdasan anak (aman, sehat, mendorong eksplorasi)

3.       Mengupayakan agar program pengembangan kecerdasan anak dari waktu ke waktu semakin selaras dengan karakteristik setiap anak (perangai, minat, kebutuhan, budaya, hadiah,dll)

4.       Menggunakan hasil penilaian sebagai dasar penyempurnaan pengembangan kecerdasan anak, sehingga program lebih responsif-efektif dan fleksibel dengan informasi (masukan) hasil penilaian terkini.

5.       Pendidik sangat dianjurkan menjalin kemitraan dengan orang tua sebagai orang yang paling memahami karakteristik individual anak (parent as an expert) sehingga arah pencerdasan anak semakin selaras dan mendapat titik temu (disepati bersama)

Tindakan operasional-methodologis yang lebih konkrit tentulah diharapkan terjadi dalam proses pembelajaran antara pendidik (orang tua) dengan anak usia dini itu sendiri. Bahkan hal ini merupakan bagian utama yang harus sangat diperhatikan dalam pengembangan setiap dimensi kecerdasan anak agar senantiasa selaras dengan perkembangannya. Dengan menghargai anak sebagai individu yang aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (ajaran konstruktivistik), pengakuan atas karakter dasarnya anak yang berada pada tataran kognitif-konkrit, kesadaran atas proses pelekatan kecerdasan (memorized) pada anak bersifat akumulatif, tindakan menghormati prinsip belajar sepanjang hayat (long life education) serta harapan semua dimensi kecerdasannya dapat berkembang dengan baik (sesuai tujuan internal dan instrumental PAUD), maka penulis (juga dengan menyimak pada pandangan: Piaget, Vygotsky, Montessori, Erikson, Smilansky) mengajukan tiga cara utama (strategi umum) yang dapat digunakan para pendidik untuk mengembangkan kecerdasan jamak pada anak usia dini, yaitu dengan:

1.       Memberikan kesempatan eksplorasi yang memadai pada setiap anak

Eksplorasi merupakan kesempatan anak untuk menelusuri dan memanipulasi sesuatu secara fisik. Kesempatan tersebut merupakan ‘sesuatu’ yang luar biasa untuk mendapatkan informasi (kecerdasan) melalui segenap inderanya. Dengan fitrah kekuatan rasa ingin tahu yang tinggi dari setiap anak, maka eksplorasi merupakan landasan dari sebagian besar pengembangan kecerdasan jamak anak. Agar eksplorasi menjadi efektif dalam pengembangan potensi kecerdasan jamak setiap anak, hendaklah pendidik (orang tua):

a.       Memberikan keleluasaan dalam mengekplorasi setiap bagian objek (unit objek)

b.      Memberikan waktu yang cukup, bahkan lebih kepada anak untuk kegiatan eksplorasi

c.       Berhati-hati dalam mengalihkan anak, jangan sampai merusak fokus pengembangan kecerdasannya (Penerapan prinsip 3J: Jangan Marah Dulu, Jangan Melarang Dulu, Jangan Menyuruh Dulu, ilustrasi dan penerapannya dijelaskan pada saat presentasi)

d.      Mendukung dengan lingkungan, material yang lebih kaya, bermakna dan fungsional

e.      Menyediakan diri sebagai ‘fasilitator’ yang signifikan untuk menggenapi kecerdasan anak.

 

2.       Meningkatkan mutu interaksi pedagogis dengan anak

Interaksi merupakan hubungan timbal-balik dengan anak, yang tentunya pengaruhnya juga akan bersifat ‘timbal-balik’ dan membekas. Dengan kesadaran bahwa interaksi akan memberi pengaruh yang membekas dan berdampak pada kecerdasan anak, maka interaksi merupakan media fungsional dalam mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan jamak anak. Agar interaksi menjadi efektif bagi pengembangan kecerdasan anak, maka dalam interaksi pendidik (orang tua) hendaklah:

a.       Terampil memberi respon yang dapat memperkaya bahasa anak

b.      Menggunakan kata-kata atau kalimat yang dapat membangun karakter positif anak

c.       Memelihara bahasa komunikasi dengan ucapan (lafal), makna dan struktur yang baik dan benar

d.      Bersikap dan berperilaku selaras dengan ucapan dan yang semestinya

e.      Jangan memutus-memotong tunas potensi bahasa anak, terutama bahasa ekpresif anak, ilustrasi dan penerapannya dijelaskan pada saat presentasi)

 

3.       Memberikan dukungan logika yang efektif dan tepat

Logika adalah ketepatan dalam berpikir dan merupakan bagian penting yang harus ‘dipahami dan diasah’ karena merupakan dimensi kecerdasan jamak yang utama. Cara berpikir anak usia dini masih konkrit, untuk itu perlu mendapatkan dukungan dari pendidik (orang tua) sehingga dapat berkembang dengan baik, cara efektif yang dapat dilakukan untuk pengembangan logika anak diantaranya:

a.       Dengan mengajukan pertanyaan secara efektif (emergence, kontekstual, mengungkap-menggiring pada  menggali yang tersembunyi-tidak nampak)

b.      Dengan menunjukkan phenomena-gejala-obyek secara tepat dan fokus; yang diiringi keyakinan bahwa anak-anak melihatnya/memperhatikannya dengan baik

c.       Dengan memberikan penjelasan dan arahan yang sederhana dan mudah dipahami atau simple ilustration (simplified teaching, exposes, demonstration)

d.      Dengan memberikan ilustrasi dan demostrasi pengulangan yang memadai sehingga fungsi penyimpanan dalam otak (memorized) bekerja dengan efektif.

e.      Dengan memberikan kesempatan terlibat dengan dan atau seperti obyek, gejala, prosedur, dan logika yang diperkenalkan atau yang dikembangkan

 

 

Dari tiga strategi utama di atas, secara teknis para pendidik (orang tua) dapat mengidentifikasi berbagai kegiatan ‘spesifik’ yang dapat didesain secara khusus dan dapat menjadi bagian terintegrasi dari praktek pengajaran di PAUD, bahkan dengan menggunakan pendekatan ‘dimensional’ per aspek kecerdasan  jamak atau berdasar parsial setiap jenis kecerdasan jamak, maka kecerdasan anak dapat dikembangkan secara optimal. Berikut gambaran kegiatan spesifik dan dimensi atau aspek kecerdasan yang dapat dikembangkannya, misalnya:

 

Dimensi Kecerdasan

Fasilitasi

Pengembangan

Media dan Sumber Belajar Alternatif

Orientasi Dewasa

Ruang/Gambar (Pandangan)

 

·     Bermain main puzzle-maze

·     bercakap-cakap  dengan gambar-foto

·     Menggambar, mencoret-coret, mendesain

·     Kegiatan mind-mapping

·     Sediakan perpustakaan gambar

·     permainan imajinasi,

·     dll

·  Teka-teki

·  Buku bergambar-alat tulis, alat lukis

·  Foto-foto

·  Peta

·  Grafik-diagram

·  Maze

·  Video, film, slide

·  Kunjungan ke museum

·  dll

·  Ahli rancang gambar

·  Ahli kerajinan

·  Ahli Mechanik

·  Therapist

·  Psychologists

·  Philosophers

·  dll

Bahasa

·     Membaca

·     Menulis

·     Bercerita

·     Diskusi-debat

·     bermain dgn permainan kata-kata (tebak kata)

·     Mendengar kaset cerita

·     Monolog

·     Menuliskan ide

·     Mencari kata

·     Mendengarkan puisi

·     Menonton wayang

·     Belajar bahasa kedua (bahasa asing)

·     dll

·  Alat tulis-menulis,

·  Buku

·  Kamus

·  Tape

·  Mesin ketik / computer pengolah kata

·  Dll

·  Guru-pendidik

·  Pengacara

·  Orator

·  Pembaca Berita

·  Penulis buku-cerita

·  Pendongeng

·  Dalang

·  Pembaca puisi-sajak

·  Reporter

·  dll

Logika Matematika

·     Menghitung obyek atau Menghitung di otak

·     Bermain dengan strategi

·     Latihan mengestimasi

·     Melakukan Eksperimen,

·     Percobaan ilmiah,

·     Selesaikan masalah,

·     dll

·  Media bermain berhitung

·  Kalkulator

·  Bahan-bahan untuk melakukan eksperimen,

·   bahan-bahan IPA,

·   kunjungan ke planetarium dan museum IPA

·  dll

·  Ahli Mathematika

·  Insinyur (Engineers)

·  Ahli Fisik

·  Ilmuwan (Scientists)

·  Peneliti-Investigation

·  Programer komputer

·  dll

Fisik dan Gerak

·     Menari

·     Berlari

·     Membentuk

·     Menyentuh

·     Olahraga

·     Gerak tubuh

·     Mainkan drama

·     Relaksasi

·     Meraba-utak-atik (koordinasi tangan-mata)

·     Bermain tebak gerakan

·     Cari ide gerak saat olah raga

·     Belajar kerajinan tangan

·     dll

·  Alat-alat penujang olah raga

·  Perabot rumah tangga: sendok, garpu, dll

·  Perabo pertukangan: Palu, obeng, dll

·  Lilin-plastisin mainan

·  Alat-alat menari-bermain dama

·  Media kerajinan tangan

·  dll

·  Atlet, olaragawan

·  Ahli kerajinan (Handicrafts- Craftsmen)

·  Pandai menari (dancers)

·   dll

Musik dan Ritme

·     Berdendang- bersenandung

·     Bernyanyi sendiri atau  bersama (teman)

·     Memperdengarkan sebanyak mungkin music

·     Bersiul,

·     Mengetuk-ngetuk dengan kaki dan tangan,

·     Mengaji

·     dll

 

·  Koleksi musik/lagu

·  Radio Tape

·  Alat musik

·  Teks lagu / bacaan Al-Qur’an (lagu rohani)

·  dll

·  Penyanyi

·  Pemusik

·   Pencipta lagu

·  Penilai music

·  dll

 

Interpersonal

·     Berlatih berteman

·     Diperkenalkan dengan orang baru

·     Kesempatan bersama dan bekerja sama,

·     Kesempatan memimpin,

·     Kesempatan mengatur dan bertindak sebagai penengah

·     Berhadapan dengan bersukaria

·     Bermain peran (sosio-drama)

·     dll

·  Mainan halma-ular tangga, catur, monopoli, dll

·  Alat ke pesta (baju, dll)

·  Perangkat bermain peran (role play),

·  dll

·  Politikus

·  Kiai/pendeta,

·  Pekerja sosial

·  Motivator,

·  Dll

 

Intrapersonal

·     Menyusun tujuan (cita-cita)

·     Membuat pilihan-pilihan

·     Berperan sebagai penengah

·     Mengingat-mencatat  mimpi

·     Kesempatan merenungkan hari-hari

·      dll

·  Buku harian

·   Alat untuk

·  Ekspresi diri, missal: cermin

·   Ruang merenung

·  dll

·  Novelist

·  Therapist

·  Psychologists

·  Philosophers

·  dll

Alam

·     Berkebun: menanam benih dan mengamati pertumbuhannya,

·     melakukan penyelidikan terhadap alam,

·     Bermain-interaksi dengan binatang, membesarkan binatang,

·     menetaskan telur, mengamati burung

·     berbaring dihalaman dan menatap ke langit

·     mengumpul bebatuan,

·     menghargai planet bumi

·     membaca buku/majalah ttg alam

·     dll

·  Tumbuhan

·  Bijian-bijian benih

·  Lingkungan alam: sawah, kebun, dll

·  Binatang peliharaan

·  kaca pembesar, teleskop, dll

·  Bebatuan

·  dll

·  Petani/Farmer

·  Pemburu/Hunters

·  Tukang Taman/ Gardeners

·  Ahli pertanian /Horticulturist

·  Peternak handal

·  dll

Eksistensial

 

·     Mengunjungi-menjenguk orang sakit,

 

·     Kesempatan memandang dari sudut luas atau sudut lain

 

·     Kesempatan merenung,

 

·     Kesempatan membandingkan sesuatu

 

·     Dll

·  Teman yang sakit atau kena musibah

·  Film atau video

·  Ruang atau tempat merenung

·  dll

 

·        Pemimpin

·        Philosop

·        Penemu

·        Orang bijak

·        dll

 

Untuk menguasai dengan baik tiga cara utama dan teknis-teknis pengembangan kecerdasan jamak di atas tentulah setiap pendidik (orang tua) harus terus berlatih dan berusaha menjadi ‘diri’ yang efektif sebagai ‘agen’ pengembang kecerdasan jamak setiap anak. Untuk itu mulai sekarang, mulai saat ini harus membiasakan diri :

1.       Membiasakan diri merekam-mencatat perangai, perilaku dan dinamika anak dengan catatan dan keterangan yang terbaca dan memadai.

2.       Senantiasa menghargai potensi awal anak (sekecil apapun), sebagai tunas potensi yang berharga dan luar biasa dalam pengembangan berbagai dimensi kecerdasannya

3.       Senantiasa mencocokan tindakan dan fasilitasi sesuai arah perkembangan anak (Wahai pendidik: ubah dirimu sesuai tuntutan “gambaran’anak-anakmu)

4.       Senantiasa mengembangkan kepekaan dan emphatik terhadap kebutuhan perlakuan sesuai harapan dan arah kecerdasan anak-anak (agar terjadi emphatic teaching-spontaneous teaching-emergence teaching yang terkendali dan efektif)

5.       Senantiasa mencari media, bahan, alat dan sumber belajar yang paling efektif dan terperbaharui dari waktu ke waktu. Material tersebut sangat melimpah di sekitar kita, untuk itu bukalah mata dan tingkatkan kreatifitas Anda.

6.       Tambahan penyempurna, (jika memungkinkan?!) Kembangkan model-model lesson study dan classroom action research, sehingga perencanaan, pelaksanaan dan pengembangan pembelajaran untuk peningkatan kecerdasan anak semakin selaras  dengan tuntutan kecerdasan jamak anak. (ini sebetulnya cukup mudah untuk diterapkan di PAUD).

 

Kepustakaan:

Bredekamp, Sue; Copple, Carol (editors). (1997). Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood Programs (revised edition). Washington, DC: National Association for the Education of Young Children (NAEYC).

Bredekamp, Sue; Rosegrant, Teresa (editors). (1987). Reaching Potentials: Appropriate Curriculum and Assessment for Young Children, Volume I. Washington, DC: National Association for the Education of Young Children (NAEYC).

Downs, J., Blagojevic, B., Labas, L., Kendrick, M., & Maeverde, J. (2005). Thoughtful Teaching: Developmentally Appropriate Practice. In Growing Ideas Toolkit

http://www.ccids.umaine.edu/ec/growingideas/dapres.htm

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s